Monday

Hidup DiDunia- Bagai Musafir Lalu.



Banyaknya hadiths yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, daripada Abdullah bin Umarرضي الله عنه , Muhammad Rasulullah bersabda sambil memegang bahunya: 

"Jadilah kamu (semasa hidup) di dunia seolah-olah kamu seorang pengembara atau menyeberang sebatang jalan."

Muhammad Rasulullah di sini telah menyatakan satu ungkapan yang sangat pendek namun maknanya sangat luas dan mendalam untuk kita renungi. Baginda mengibaratkan kehidupan kita di dunia ini adalah umpama seorang pengembara atau musafir. Mengapa Muhammad Rasulullah menyatakan demikian? Kerana hakikatnya seorang musafir itu cuma berhenti sementara dan apabila tiba saatnya dia akan berlalu pergi jua. Mereka cuma bertujuan untuk mencari bekalan dan keperluannya bagi meneruskan perjalanan selanjutnya selepas itu. Itulah hakikat yang perlu kita ingat sebagai hamba kepada Maha Pencipta, Pemilik Sekalian Alam-Allah Rabbul Jalalluh.


Jelasnya, tujuan kita hidup di dunia ini adalah kerana akhirat semata-mata. Jika bekal yang dibawa sepanjang pengembaraan atau kehidupan ini berbekal dengan bekal  yang baik, maka baiklah kehidupan kita nanti di destinasi yang kekal abadi. Begitu jugalah sebaliknya. Inilah sebaik-baik ciri musafir yang bermatlamat. Dia tahu akan matlamat sebenar keberadaannya didunia ini. pengembaraannya sehingga dia menggunakan peluang sebagai musafir itu dengan baik sekali.


Namun janganlah pula kita menjadi musafir yang sekali-kali lupa jalan pulangnya. Musafir yang lalai, tertawa riang tanpa mengingat suatu masa kita akan kembali ke Maha Pencipta dalam sedikit masa lagi. Dia mula terpesona dengan keindahan yang memperdaya di sepanjang persinggahannya dan seterusnya lupa akan asal-usulnya, tujuan, dan matlamat sebenarnya sehingga ada yang menegurnya untuk pulang tetapi tetap  tidak diendahkannya.

 

Sebagai manusia, memang diakui sering kali kita salah dan kadang-kadang tersesat di perjalanan. Walaupun demikian, berusahalah memperbaiki diri tanpa putus asa dan mulailah bertanya petunjuk kepada mereka yang lebih arif tentang cara yang betul untuk sampai ke sebuah destinasi yang dituju. Apabila matlamat sudah jelas, pastinya kita tidak akan sekali-kali goyah walau menghadapi badai dan ribut yang sangat mencabar. Kita tetapkan terus berlari dan tetap kuat sehingga sampai ke destinasi dengan selamat. Dalam konteks ini, bekal yang terbaik adalah ketakwaan, yaitu amal soleh dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 197, yang bermaksud:


ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَـٰتٌۭ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍۢ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٧
[Iltizam untuk˺ menunaikan haji dilakukan pada bulan-bulan yang ditetapkan.1 Sesiapa yang berniat untuk ˹menunaikan˺ haji, hendaklah dia menjauhi hubungan intim, kata-kata kesat, dan pertengkaran semasa haji. Apa sahaja kebaikan yang kamu lakukan, Allah ˹mengetahuinya. Bawalah bekal ˹untuk perjalanan˺—sesungguhnya bekal yang terbaik ialah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal!]
[Surah Al Baqarah : Ayat 197]


Manakala dalam Surah Adz-Dzaariyaat, ayat 56, Allah berfirman: "Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadat kepada-Ku."

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٥٦
[Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.]

[Surah Adh Dhariyat: Ayat 56]


Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan utama kita diciptakan. Musafir yang bijaksana selalu efisien dalam mengatur waktunya dan mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyediakan bekalan takwa. Imam an-Nawawi pernah berkata: "Sesungguhnya bagi Allah ada hamba-Nya yang bijaksana, yang menolak dunia karena takut akan fitnahnya, lalu dia melangkah dengan penuh berhati-hati karena dia sadar bahwa dunia bukan tempat (watan) yang kekal abadi, lalu dia membayangkan laluan dunia itu seperti laut yang dalam, dia membawa bekalan yang baik-baik dan kendaraan yang membawanya ke sebuah destinasi."


Justeru itu, janganlah kita bertangguh-tangguh lagi dalam amal ibadah dan perkara-perkara yang mulia. Namun harus diingat, peringatan Rasulullah dalam hadis tersebut adalah untuk mengajak kita menyadari hakikat diri kita dan bukannya mengajar kita untuk menolak sepenuhnya kehidupan di dunia, tetapi menyeimbangkan kehidupan serta mengambil sebagian kecil dunia ini sebagai persiapan akhirat. Kembalilah memuhasabah diri dengan selalu memeriksa amal-amal kita, merenungi perjalanan hidup yang telah dilalui, serta selalu merasa kurang sehingga muncul perasaan untuk beristighfar kepada Allah.


Oleh karena itu, janganlah kita hidup di dunia milik Allah ini dengan sikap sambil lewa. Semoga dengan sisa umur kita di dunia ini, Allah menjadikan kita sebagai musafir yang bijaksana dan tidak tertipu oleh keindahan dunia yang sementara. Terlalu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, maka manfaatkanlah masa dan anugerah Allah itu untuk kita selalu berjuang mencari keredaan-Nya.






No comments:

Speak to people mildly (20:44)

Surah Taha, Verse 44 of the Quran provides a profound lesson on the power of gentle speech, even in the face of extreme arrogance and tyrann...